Dalam hadits Nabi Muhammad dijelaskan bahwa dunia adalah tempat menanam yang nantinya akan diambil hasilnya kelak di akhirat. Dari sinilah kita akan lebih berhati - hati dalam setiap bertindak karena akan mendapatkan peristiwa yang berkaitan di masa depan. Segala perkara pastilah ada balasannya dari Yang Maha Kuasa. Selain kita pasrah kepada Allah tetapi dalam berbuat harusnya berhati-hati dalam berbuat. Hal ini balasan tidak seketika dan pada orang yang sama.
Allah akan memberi balasan bisa kepada orang yang berbuat atau keturunannya. Sebagai contoh yang pernah dialami oleh penulis beberapa hari ini yakni saat dompet jatuh di jalan raya. Saat itu perjalanan pulang dengan bersepeda motor ada yang berteriak, mas dompetnya jatuh. Saya pun langsung putar balik dan mencari dompet saya yang jatuh, tapi apa daya sampai tiga kali berputar mengelilingi tempat yang sama belum mendapatkan apa yang dicari. Akhirnya saya pun pulang kemudian sholat dan begitu memegang hp masuk di media sosial ada pemberitahuan bahwa dompet saya diposting di grup salah satu facebook. Kemudian saya pun menelusurinya dan menghubungi nomor kontak yang tertera di grup tersebut.
Keesokan harinya saya pun bercerita pada ayah kalau dompet saya jatuh dan sudah ada yang menemukannta. Saat itu pula beliau merespon dengan bercerita kalau dulu sering menemukan barang jatuh kemudian menyempatkan untuk mengembalikannya. Dan beliau pun mengambil kesimpulan siapa yang menanam akan menuai juga.
Begitu siang hari setelah dari kegiatan sekolah saya pun berangkat mengambil dompet yang lokasinya tak jauh dari sekolah. Saat sampai di rumah orang yang menemukan dompet saya, ternyata beliau masih muda baru lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK). Beliaupun bercerita kalau menemukan dompet begitu jatuh di depannya dengan berusaha mengamankannya agar tidak terlindas kendaraan yang melalu lintas. Setelah berbincang - bincang yang cukup lama akhirnya saya pun berpamit pulang serta tidak lupa mengucapkan terima kasih dengan memberi imbalan tetapi dengan ikhlasan beliau tidak mau menerimanya. Kami pun tetap mendoakannya senantiasa sehat wal afiat dan tergapai cita - citanya.
Dari cerita tersebut dapat diambil kesimpulan kita harus berhati - hati dalam meletakkan sesuatu barang yang kita miliki. Fenomena di masyarakat orang sering meremehkan apa yang ditaruhnya dan pada akhirnya kata yang terucap adalah lupa. Inilah yang membedakan antara memiliki barang atau harta dunia dengan ilmu pengetahuan. Bila kita memiliki ilmu pengetahuan dalam penjagaannya wajib kita menularkan kepada orang lain sebagai ladang amal.
Malang, 16 Agustus 2020
Penulis adalah Mahasiswa S2 di pasca sarjana UNIRA, Penyuluh Agama Islam di Kec. Pakisaji dan Guru P. Agama Islam di SMPN 1 Wagir
Subhanallaah wal hamdulillaah
BalasHapus