Selasa, 15 September 2020

Tak Asing Dengan Membaca

 





    Membaca ialah suatu aktivitas yang sangat berharga bagi setiap manusia. Nabi Muhammad mendapat wahyu pertama yakni perintah membaca. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al Quran surat Al Alaq ayat 1 sampai dengan 5. Dengan kita pahami makna ayat pertama yang berbunyi : bacalah dengan nama Tuhan Yang Menciptakanmu. Dari sinilah kita dianjurkan untuk membaca doa dengan bagaimanapun kondisi kita. Dengan membaca kita akan ingat kepada yang menciptakan kita. Dan dengan membaca kita sudah memanfaatkan anugerah Tuhan yang berupa akal. 


   Membaca secara umum dibagi menjadi dua kelompok. Membaca yang tersurat dan membaca yang tersirat. Adapun membaca yang tersurat adalah membaca tulisan yang ada dihadapan kita. Baik itu tulisan yang berupa kitab suci, buku, majalah, koran ataupun komentar bahkan status di media sosial. Membaca tersurat dengan artian membaca yang tertulis dan mudah kita baca. Saat membaca dengan konteks tersurat ini kita diharapkan bisa memilah dan memilih yang terbaik sehingga wawasan keilmuan kita bertambah. Namun apabila yang dibaca hanya sekedar komentar atau status di media sosial yang kurang bermanfaat, maka akan membuang waktu sia - sia. 


      Adapun membaca secara tersirat adalah membaca yang disertai makna yang terkandung di dalam bacaan. Dan secara lebih luas lagi membaca tersirat memikirkan keadaan yang sedang dihadapi untuk kedepan lebih baik lagi. Tidak hanya sekedar membaca tetapi diiringi dengan berfikir sehingga pembaca mendapat hikmah atau petunjuk. Membaca tersirat bisa dengan membaca keadaan, peristiwa yang terjadi bahkan yang utama adalah amal perbuatannya sendiri. Tidak sedikit orang yang mudah membaca perbuatan orang lain dan sulit membaca perbuatannya sendiri. Sayidinaa Umar dalam nuansa hijrahnya Nabi Muhammad pernah mengatakan hasibu anfusakum qobla antuhasabu yang artinya hisablah diri kalian sebelum kelak akan dihisab di hari kiamat. 


  Semua orang tak terlepas dari penghisapan orang lain. Maka kita sebagai pribadi yang berakhlak harus pandai dalam membaca diri sendiri terlebih membaca kesalahan diri. Saat kita tanya kebaikan pada orang yang membenci kita itu sia - sia. Ia takkan percaya pada kita karena ia sudah membenci kita. Begitu pula pada orang yang senang pada kita tanyakanlah sesuatu yang buruk maka akan dijawab dengan baik pula. Sehingga alangkah baiknya bila kita belajar saling membaca pada diri pribadi kita dengan sekali waktu menanyakan kekurangan pada orang lain baik yang suka maupun tidak.




Malang, 15 September 2020  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara

            Senin, 31 Juli 2023 Guru Pendidikan Agama Islam mengikuti Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara di aula SMP Darul Faqih In...