Sabtu, 13 Februari 2021

Beri Keputusan Yang Terbaik Sebelum Menyesal Di kemudian Hari

 



Pada hakikatnya setiap dari kita adalah pemimpin. Itulah salah satu kaidah fiqh yang pernah dikaji di pesantren atau majelis ilmu. Kalaupun kita tidak memimpin suatu organisasi atau lembaga tetapi setidaknya kita memimpin diri kita sendiri. Dalam diri yang Allah titipkan anggota badan kepada kita. Selanjutnya akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang telah kita perbuat. 


Belajar dari diri kita sendiri akan membuat cerdas akal fikiran kita. Saat kita membuka sejarah Nabi Muhammad ada sebuah nasehat yang sangat bermakna tentang kepemimpinan. Ketika Nabi Muhammad selesai perang dengan musuh yang lumayan besar namun beliau menganggap ini masih kecil. Perang yang sesungguhnya dan paling besar adalah memerangi hawa nafsu. Ya memerangi diri kita sendiri. Tidak selalu menuruti nafsu kita sehingga perlu adanya tirakat atau riyadhoh. 


Selain berhati - hati terhadap sikap orang lain kepada kita, kitapun juga berhati - hati pada diri kita sendiri. Tidak sedikit orang menyesali atas perbuatan yang telah dilakukannya merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Adapun yang mencari keuntungan dirinya sendiri tanpa mengiraukan orang lain. Sebaliknya ada yang baik sama orang lain namun terhadap dirinya sendiri tidak dihiraukan. 


Pada hakikatnya perbuatan yang sedang kita lakukan adalah hasil dari keputusan yang kita perbuat. Bila otak bawah sadar kita mau mengerakkan untuk menulis, maka terjadilah proses menulis. Bila kita mau menggerakkan tubuh kita untuk beribadah maka terjadilah perbuatan ibadah. Begitupun dengan kemalasan yang banyak sekali dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan dalam. 


Seorang pemimpin dalam memutuskan suatu perkara tidak boleh tergesa - gesa agar yang dihasilkan dapat bijaksana. Kita juga sama sebelum memutuskan suatu perbuatan yang kita lakukan paling tidak berfikir baik dan buruknya. Apa motivasi kita melakukannya. Saat bingung belum bisa memutuskan, maka carilah pendapat orang lain yang kita anggap dapat memberi ketenangan pada hati kita. Orang lain bisa orang tua kita, guru kita ataupun orang yang akrab dengan kita. 


Kita menjadi pemimpin berharap dapat menasehati diri kita sendiri. Belajar untuk menuju kedewasaan bersikap. Memimpin untuk kebaikan dunia akhirat. Tidak hanya memimpin karena ada sesuatu yang kita harapkan dari orang lain. Keikhlasan pengorbanan juga ketulusan hati yang diharapkan sebagai pemimpin akhir zaman. Semoga kita dapat menjadi pemimpin yang diharapkan kebaikannya di masyarakat. 




Malang, 13 Februari 2021 M

                01 Rojab 1442 H


Penyuluh Agama Islam Kec. Pakisaji 

Anggota Gerakan Guru Menulis UNIRA

Mahasiswa Pasca sarjana UNIRA

Guru P. Agama Islam SMPN 1 Wagir


4 komentar:

Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara

            Senin, 31 Juli 2023 Guru Pendidikan Agama Islam mengikuti Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara di aula SMP Darul Faqih In...