Mungkin dinatara kita pernah mengalami sebuah kepuasan setelah menyelesaikan suatu pekerjaan. Perkerjaan atau aktivitas yang dikerjakan dengan hati senang dan akhirnya selesai akan membuat kebanggan tersendiri di dalam hati. Berbeda dengan orang yang melakukan pekerjaan dengan keterpaksaan. Itupun masih bagus masih mau mengerjakan walaupun dengan berat hati.
Dalam suatu kajian ilmu akhlak pernah disampaikan bahwa ada sebuah perumpamaan. Bila dalam satu rumah ada dua anak. Kemudian sang ibu memberi tugas menyapu halaman kepada dua anak tersebut. Anak yang pertama langsung pergi bermain tanpa mengiraukan tugas yang diberikan ibunya. Sedangkan anak yang kedua dengan berat hati menyapu halaman seperti apa yang diperintahkan ibunya. Memang kedua anak ini mempunyai hati yang sama. Yakni sama sama tidak ingin menyapu halaman. Namun anak yang kedua meskipun dengan terpaksa tetap menyapu halaman.
Dari perumpamaan tersebut dapat kita ambil hikmahnya. Kita meniru dari anak yang kedua. Tetapi tetap berusaha untuk melapangkan hati kita saat disuruh dalam hal kebaikan oleh orang tua kita. Begitu pula saat andaikan kita sebagai mahasiswa atau pelajar sekalipun bila kita tidak ingin bahkan malas mengerjakan tugas, tetaplah berusaha mengerjakan. Walau hati terasa berat, bagaimanapun tugas haruslah dikerjakan dan dikumpulkan.
Penulis teringat nasehat dari seorang ulama di kota Malang tentang pembahasan memaksa diri dalam proses kebaikan. Saat kita sebagai santri tentu ada suatu kewajiban untuk sholat dan mengaji. Bagi santri pondok, sholat malam merupakan bentuk ikhtiyar perbaikan diri. Kita sudah berencana bangun jam tiga dengan menggunakan alarm, bila tidak dibarengi dengan memaksa diri untuk bangun tetap kita akan dikalahkan oleh kemalasan kita.
Pekerjaan yang dikerjakan dengan terpaksa memang tidak nyaman. Namun saat suatu kebaikan bila kita tidak memaksa diri kita untuk memulai berbuat sampai kapanpun tidak akan terlaksana. Tertunda pekerjaan karena rasa capek dan sibuk itu sudah biasa. Mungkin sebagian orang bisa melakukan kebaikan dalam kondisi apapun dengan alasan kita harus kuat komitmen dan niatan kita.
Semoga tulisan sedikit ini dapat bermanfaat bagi penulis juga pembaca. Mari kita gerakkan tubuh kita dalam hal kebaikan. Baik kebaikan itu berupa amal sholeh, mengajar ilmu, bahkan menulis dan membaca sangat perlu kita paksakan diri kita untuk tetap menjalaninya. Andai dilain waktu saat kita sudah sampai pada waktunya istirahat kita tetap istirahat. Saat memaksa diri tetap memperhatikan kesehatan baik sehat jasmani, rohani maupun fikiran kita.
Malang, 16 Februari 2021 M
4 Rojab 1442 H
Penyuluh Agama Islam Kec. Pakisaji
Guru Pendidikan Agama Islam SPANEWA
Anggota Gerakan Guru Menulis UNIRA
Mahasiswa Pasca sarjana UNIRA
Masya Alloh, inspirasi luar biasa, semoga sy bisa memsksa diri untuk berbuat baik saat malas melanda...
BalasHapus