Waktu yang tepat untuk membahas ilmu adalah saat santai dengan ditemani secangkir kopi dan sajian-sajian ringan. Kemudian penulis memulai percakapan dengan salah seorang guru juga tim bekerja di SMPN 1 Wagir. Tema yang akan dibahas yakni tentang menjadi pribadi yang bijak di masa kini.
Tema ini sesuai dengan pendalaman nama dari penulis sendiri. Akbar Wicaksono yang berarti Besar Kebijaksanaanya. Banyak di masyarakat yang sering berselisih argumen sampai adanya pertengkaran hanya karena ingin benar sendiri. Dan tidak mau mengalah atau melihat sisi kebenaran dari orang lain.
Oleh karena itu, bijak sana. Bijak itu di sana (orang lain) bukan bijak di sini (diri sendiri). Bila kita masih mengangap kita yang segalanya maka disebut bijak sini, seharusnya kita lihat orang lain dari sisi kebaikan hingga muncul bijak sana.
Memang manusia tak terlepas dari kesalahan. Sengaja atau tidak sengaja pasti pernah melakukan kesalahan. Juga kita dihadapkan dengan satu masalah sesuai diskusi kami menyepakati harusnya ada yang mengalah. Orang yang bijak mau mengalah dan tidak merasa benar sendiri.
Tahapan yang utama dalam mencapai bijaksana adalah kita mulai mengendalikan ego kita. Ego tidak sama dengan nafsu. Ego cenderung kepada pengakuan diri sendiri. Bangga atas dirinya yang berlebihan. Tidak ada yang benar kecuali dirinya.
Bagaimana langkah awal untuk mencapai bijak sana? Yakni dengan berusaha selalu ingat pada Allah. Berusaha mengalah. Mengembalikan segala masalah kepada Allah. Tidak ada yang dapat menyelesaikan masalah dan mengubah karakter seseorang kecuali hanyalah Allah.
Marilah tetap semangat bersyukur bersabar berbaik sangka pada Allah. Selanjutnya paling utama berusaha mendoakan yang terbaik untuk sahabat bahkan guru kita sekalipun untuk mendapat pentunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Aamiin.
Malang, 15 Maret 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar