Jumat, 21 Agustus 2020

Renungan Kemerdekaan Dengan Tahun Baru Islam

 




        Pada tahun ini ada dua hal yang sangat Istimewa bila kita mau merenung sejenak. Tepatnya dalam bulan Agustus 2020 ada dua momen yang hampir bersamaan. Momen tersebut yakni peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus dan Tahun Baru Islam pada tanggal 20 Agustus. Dalam selisih 3 hari antara kemerdekaan dan pergantian Tahun Hijriyah patutlah kita ambil hikmahnya.


 A.    Kemerdekaan

        Pertama kita renungkan dahulu tentang kemerdekaan. Kemerdekaan tidak terlepas dari perjuangan para pahlawan. Baik yang disebut itu pahlawan proklamator yakni Bapak Ir. Soekarno dan Bapak Moh. Hatta, maupun Pahlawan Nasional pada umumnya. Mungkin kita pun pernah mendengar bahwa bangsa yang besar yakni bangsa yang mampu menghargai perjuangan para pahlawannya. Sehingga munculah pertanyaan bagaimana cara kita menghargai perjuangan para pahlawan melalui peringatan kemerdekaan ? Jawabnya bagi kita sebagai generasi penerus mari kita senantiasa mengisi peringatan kemerdekaan dengan berziarah ke makam para pahlawan yang mampu kita kunjungi. Namun bila tidak ya wajib untuk mendoakannya untuk mengenang jasa dan perjuangan mereka.

 

        Di daerah pedesaan yang masih menjadi tradisi dalam mengisi kemerdekaan yakni dengan dilaksanakannya kegiatan Bari’an atau tasyakuran kemerdekaan. Ada pula yang menyebutnya Malam tirakatan dengan maksud menirakati atau mengenang para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan. Selanjutnya dalam mengisi kemerdekaan yang menjadi inti adalah dengan upacara detik – detik proklamasi saat jam 10.00. Upacara tahun ini berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya. Di karenakan Negara Indonesia masih dalam ujian wabah covid – 19. Meskipun begitu tidak menyurutkan semangat bangsa Indonesia dalam memperingati Kemerdekaan.


 B.     Tahun Baru Islam

        Kedua tentang Tahun Baru Hijriyah yang jatuh pada tanggal 20 Agustus 2020. Tahun Baru Hijriyah ini  dalam bahasa jawa dikenal dengan wulan suro. Bulan dimana para Nabi dan Rosul banyak yang menang dalam melawan musuh-musuhnya pada tanggal 10 Muharrom. Sehingga pada tanggal tersebut umat Islam di sunahkan untuk berpuasa selama 2 hari. Meskipun ada sebagian pemahaman dari umat Islam yang tidak menganjurkan berpuasa pada tanggal tersebut dengan alasan tertentu. Tetap kita tumbuhkan toleransi dalam beribadah agar kerukunan terwujud di masyarakat.

 

        Tahun Baru Hijriyah ini dihitung sejak Nabi Muhammad SAW hijrah dari kota Mekkah ke Kota Madinah. Berbeda dengan Tahun Baru Masehi dihitung sejak kelahiran Nabi Isa. Sedangkan dari kajian ilmu pengetahuan Kalender Masehi perhitungannya dengan perputaran Matahari. Untuk Kalender Islam menurut perputaran bulan sehingga disebut juga dengan tahun atau kalender qomariyah.


 C.     Keterkaitan antara Kemerdekaan dengan Tahun Baru Islam

        Ada hal yang menjadi kesamaan dalam dua peristiwa tersebut. Yakni sama – sama perlu adanya perjuangan untuk menggapai suatu tujuan. Dalam berjuang pun harus bekerja keras agar yang menjadi harapan dapat terpenuhi. Setelah Peringatan Kemerdekaan Indonesia disambung dengan Peringatan Tahun Baru Islam yang hakikatnya sama, yakni saat Tahun baru Islam para Nabi dan Rosul telah merdeka atau menang dari para musuh.

 

  





Penulis : 

Mahasiswa Pasca sarjana UNIRA, Anggota GGM Nusantara

Penyuluh Agama Islam Kec. Pakisaji, Kepala MADIN Nurul Hikmah

Pembina Pramuka dan Guru PAI SMPN 1 Wagir, 


Sabtu, 15 Agustus 2020

Dompet Yang Kembali Pada Sang Pemilik




   Dalam hadits Nabi Muhammad dijelaskan bahwa dunia adalah tempat menanam yang nantinya akan diambil hasilnya kelak di akhirat. Dari sinilah kita akan lebih berhati - hati dalam setiap bertindak karena akan mendapatkan peristiwa yang berkaitan di masa depan. Segala perkara pastilah ada balasannya dari Yang Maha Kuasa. Selain kita pasrah kepada Allah tetapi dalam berbuat harusnya berhati-hati dalam berbuat. Hal ini balasan tidak seketika dan pada orang yang sama. 

    Allah akan memberi balasan bisa kepada orang yang berbuat atau keturunannya. Sebagai contoh yang pernah dialami oleh penulis beberapa hari ini yakni saat dompet  jatuh di jalan raya. Saat itu perjalanan pulang dengan bersepeda motor ada yang berteriak, mas dompetnya jatuh. Saya pun langsung putar balik dan mencari dompet saya yang jatuh, tapi apa daya sampai tiga kali berputar mengelilingi tempat yang sama belum mendapatkan apa yang dicari. Akhirnya saya pun pulang kemudian sholat dan begitu memegang hp masuk di media sosial ada pemberitahuan bahwa dompet saya diposting di grup salah satu facebook. Kemudian saya pun menelusurinya dan menghubungi nomor kontak yang tertera di   grup tersebut. 

Keesokan harinya saya pun bercerita pada ayah kalau dompet saya jatuh dan sudah ada yang menemukannta. Saat itu pula beliau merespon dengan bercerita kalau dulu sering menemukan barang jatuh kemudian menyempatkan untuk mengembalikannya. Dan beliau pun mengambil kesimpulan siapa yang menanam akan menuai juga. 

Begitu siang hari setelah dari kegiatan sekolah saya pun berangkat mengambil dompet yang lokasinya tak jauh dari sekolah. Saat sampai di rumah orang yang menemukan dompet saya, ternyata beliau masih muda baru lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK). Beliaupun bercerita kalau menemukan dompet begitu jatuh di depannya dengan berusaha mengamankannya agar tidak terlindas kendaraan yang melalu lintas. Setelah berbincang - bincang yang cukup lama akhirnya saya pun berpamit pulang serta tidak lupa mengucapkan terima kasih dengan memberi imbalan tetapi dengan ikhlasan beliau tidak mau menerimanya. Kami pun tetap mendoakannya senantiasa sehat wal afiat dan tergapai cita - citanya. 

   Dari cerita tersebut dapat diambil kesimpulan kita harus berhati - hati dalam meletakkan sesuatu barang yang kita miliki. Fenomena di masyarakat orang sering meremehkan apa yang ditaruhnya dan pada akhirnya kata yang terucap adalah lupa. Inilah yang membedakan antara memiliki barang atau harta dunia dengan ilmu pengetahuan. Bila kita memiliki ilmu pengetahuan dalam penjagaannya wajib kita menularkan kepada orang lain sebagai ladang amal. 





Malang, 16 Agustus 2020
Penulis adalah Mahasiswa S2 di pasca sarjana UNIRA, Penyuluh Agama Islam di Kec. Pakisaji dan Guru P. Agama Islam di SMPN 1 Wagir

Minggu, 26 Juli 2020

Zakatilah Ilmu Dengan Menulis



  Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama : seorang manusia terutama diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya. Perbuatannya ini, baik maupun buruk akan tetap dikenal meskipun seseorang sudah mati. Berangkat dari peribahasa di atas maka muncul istilah ilmuwan mati meninggalkan karya. 


  Yang dimaksud ilmuwan disini adalah orang-orang yang dititipi ilmu oleh Allah baik itu seorang guru,kyai,dokter,dokter dan lain sebagainya. Dan mereka itu semua mempunyai keinginan untuk menularkan atau mengajarkan ilmunya kepada orang lain sehingga mendapat kemanfaatan. Bila di kalangan pesantren, para santri saat mengaji pastilah menggunakan kitab yang notabenya kitab itu adalah karya dari ulama zaman dahulu. 


  Andaikan para ulama tidak menuliskan ilmunya dipastikan tidak ada yang mempelajari dan melanjutkan ilmu yang dimiliki oleh ulama tersebut. Oleh karena itu kegiatan menulis ini sangat mulia dan berarti bagi orang yang dititipi ilmu oleh Allah. Seorang dokter yang ahli selain mengobati pasien bila ia juga penulis maka akan manfaaf ilmunya. Begitu juga dengan guru kegiatan tulis menulis tidak akan terlepas dari kehidupannya.


  Saya pernah membaca artikel yang menegaskan tidak mungkin bisa murid akan menulis bila guru yang menyuruh menulis itu jarang untuk menulis. Disini penulis juga seorang guru yang berusaha belajar lebih baik lagi dalam proses menulis. Orang yang dititipi ilmu oleh Allah dalam bahasa agama mempunyai kewajiban zakat, yakni zakat orang berilmu itu dengan mengajarkannya. Tetapi dalam konteks kemanfaatan selain ilmu itu diajarkan juga harus ditulis sebagai jariyah bila sudah meninggal dunia. 


  Menurut motivator nasional almarhum Mr. Taufiqi pernah berkata bila ingin tahu diriku maka jelajahilah karya-karyaku. Semoga tulisan yang singkat ini dapat membangunkan semangat para ahli ilmu dalam menulis yang nantinya akan menjadi jariyah atau pahala yang mengalir bila dipelajari oleh generasi penerus.





Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UNIRA smt 2, Penyuluh Agama Islam Kec. Pakisaji, Guru P. Agama Islam SMPN 1 Wagir dan Kepala MADIN Nurul Hikmah Kebon agung Kec. Pakisaji.

Senin, 22 Juni 2020

Kesanadan Santri Kepada Sang Kyai




  Dari segi bahasa, sanad artinya yang menjadi sandaran, tempat bersandar, arti yang lain sesuatu yang dapat dipegangi atau dipercaya. Dari pengertian tersebut bila kita hubungkan atau kaitkan dengan santri bahwa seorang santri haruslah bersanad atau bersandar pada sang kyai agar ilmunya bermanfaat. 

  Perilaku sang kyai pastilah dan wajib ditiru oleh santri. Bila tidak seluruhnya paling tidak beberapa persen atau semampu kita sehingga jangan sampai santri tidak meniru kyainya. Karena santri meniru kyai dan patuh apapun kebaikan yang diperintah kyai maka  dalam kaca mata ilmu akhlaq memang seharusnya seperti itu pendirian santri mengikuti apa yang diperintah kyai. 

   Ujian seorang santri dalam meniru atau mengikuti perilaku kyai pastilah banyak cobaannya. Baik cobaan dari diri sendiri yang berupa kemalasan, capek dan lain sebainya. Ataupun cobaan dari orang lain misal hasudan, pujian, hinaan dan lain sebagainya. 

   Agar menjadi santri sukses mendapat ilmu bermanfaat barokah memang tidaklah mudah. Adapun beberapa kiat atau resep yang harus dijalani santri supaya berhasil yakni pertama yaqinkan dalam hati apapun perintah kyai membawa barokah. Kedua menata niat juga meluruskannya dalam pengabdiannya kepada kyai. Ketiga bertutur kata juga berperilaku sopan. Keempat mengendalikan diri disaat lengah. Kelima berdoa pasrah kepada Allah SWT. 

Kamis, 11 Juni 2020

Renungan Sejenak Tentang Masker

    

    Semenjak pandemi covid 19 masyarakat dihimbau untuk memakai masker. Dengan berbagai bentuk dan harga sekarang mulai membooming pasaran daripada masker. Sebelum adanya peristiwa covid 19 ini masyarakat sudah faham kalau masker salah satu fungsinya untuk melindungi hidung dan mulut agar tidak terkena debu atau kotoran saat berkendara maupun kegiatan yang lain. Tetapi kenyataannya jarang orang yang mengenakannnya meskipun sedang berkendara. 

   Masker seakan - akan satu - satunya pelindung terhindarnya covid 19 ini. Inilah yang menjadi renungan dan pemikiran bagi umat Islam agar tidak sampai salah pemahaman dalam pemakaian masker. Memang salah satu cara terlindungi dari bahaya covid 19 ini dengan memakai masker, tetapi tidak sepanjang kegiatan memakai masker. Masker hanyalah dipakai saat berinteraksi dengan orang lain atau sedang berkendara maupun bersih - bersih. 

  Bagi umat Islam saat sholat alangkah baiknya untuk pemakaian masker masih memperhatikan ilmu sholat, yakni dengan hati - hati terhadap anggota tubuh yang wajib terkena lantai saat sujud yaitu hidung. Agar sujud juga sah bila masih memakai masker, maka maskernya agak diturunkan ke bawah. Karena sholat adalah ibarat berdialog kepada Allah sebagian ulama ada yang membolehkan saat sholat tidak mengenakan masker. Hal ini merupakan sopan santun atau adab sholat. 

    Memakai masker kita pakai sewajarnya saja dan sesuai tuntunan dengan memperhatikan syariat agama juga sopan santunnya. Kita juga harus saling mengingatkan apabila ada yang belum terbiasa memakai masker. Yang lebih diutamakan adalah toleransi menghargai satu sama lain yang mempunyai pendapat berbeda tentang pemakaian masker. 

Senin, 08 Juni 2020

New Normal Rohaniyah





Sekarang sedang ramai-ramainya upaya *"New Normal"* sebagai bentuk reaksi dari *_Virus Corona__* demi kesehatan Jasmani.

 Namun adakah upaya *"New Normal"* agar *_ROHANI_* kita sehat dari *virus-virus maksiat dan dosa yg sdh merajalela*? _Adakah yg memperhatikan hal ini....?_

*Maka inilah beberapa Protokol NEW NORMAL, yg perlu dan utama untuk kesehatan Jiwa (Bathin)*:

1. *"New normal"*  dengan *TAUBAT* sebagai landasan perubahan pola kehidupan Kita, yg mungkin tlh melenceng dari Rel Syariat, kembali menuju jalan yg diridhai dgn menjadi hamba *yg rajin beribadah.*

2. *"Masker"* dengan *ASSHUMTU  (diam meninggalkan perkataan jelek/tak berguna),* agar Kita tidak menulari/tertular *virus ghibah, bohong, fitnah/hoax* dll.

3. *"Sanitizer"*  dengan *ISTIGHFAR* kalau-kalau Kita telah *terkontaminasi dosa maksiat* saat berinteraksi dgn orang lain.

4. *"Sosial Distancing"*  dengan *SABAR,* menahan diri dan meninggalkan hal-hal yg tdk berfaedah, dan menjaga jarak dari perkara-perkara yg mengundang nafsu syahwat.

5. *"Cek Suhu"*  dengan *MUHASABAH* apakah ada indikasi bahwa *nafsu dan emosi Kita* meningkat atau tidak terkendali.

6. *"Rapid Test"*  dengan *MUNAJAT* memohon petunjuk agar bathin Kita dibersihkan kembali jika _telah terpapar sifat-sifat jelek, dengki, egois, marah, malas, su'udhon_ dll.

7. *"Imunisasi"*  dgn *DZIKIR, TILAWAH /TADARUS DAN DOA* agar bathin Kita memiliki Imun/kekebalan  terhadap virus-virus yg mungkin tlh dibawa oleh *Nafsu dan Setan* yg membayangi setiap langkah Kita.

*Semoga ALLAH SWT melindungi Kita semua!* *Slmt menjalani perubahan, utk menjadi hamba ALLAH yg sukses Dunia-Akhirat!* *_Aamiin... YRA_*

*_# Tetap WASPADA dg Penyakit HATI..._*Dan tetap semangat*

Jumat, 05 Juni 2020

SEJENAK DENGAN SILATURAHMI



1. Pengertian Silaturahmi

     Silaturahmi mempumyai arti secara istilah adalah menyambung persaudaraan dan secara bahasa maknanya adalah suatu aktivitas baik secara lahir maupun batin dengan tujuan menyambung kasih sayang atau persaudaraan.

2. Dalil Silaturahmi

     Nabi Muhammad bersabda : man kaanaa yu'minu bilahi walyaumil akhir fal yashil rohimahu artinya barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka harus menyambung persaudaraan.

3. Tata Krama Silaturahmi

     Bagi pelaku silaturahmi atau yang berkunjung mempunyai tata krama sebagai berikut : sebelum berangkat menata niat terlebih dahulu dengan niatan ibadah maupun menyambung persaudaraan. Kemudian sebelum masuk rumah seyognyanya mengucapkan salam 3 kali serta bersikap dan bertutur kata yang sopan. Sebelum pulang menyampaikan terima kasih dan mohon maaf serta diakhiri salam.
     Untuk yang dikunjungi memiliki sopan santun sebagai berikut menyambut kedatangan tamu dengan wajah ceria. Memuliakan tamu atau orang yang berkunjung sebagaimana hadits Nabi Muhammad yang artinya barangsiapa yang beriman kepada hari akhir maka muliakan tamu. Kemudian bertutur kata juga bersikap yang sopan santun agar menjaga perasaan yang berkunjung atau bersilaturahmi.

4. Hikmah Silaturahmi

 a.Mengamalkan perintah Nabi Muhammad

 b.Mempererat persaudaraan

 c.Memperpanjang umur

 d. Keberkahan rezkinya

Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara

            Senin, 31 Juli 2023 Guru Pendidikan Agama Islam mengikuti Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara di aula SMP Darul Faqih In...