Jumat, 19 Maret 2021

Makna Dibalik Senyuman

 

   

 Sikap membantu orang lain dalam hal kebaikan adalah cermin dari bentuk shodaqoh di masyarakat. Tentunya kita pasti pernah melakukan hal tersebut. Sedikit banyak kita tak lepas dari bantuan orang lain karena qodrat kita sebagai makhluk sosial. Kita lahir dibantu orang lain sampai meninggal dunia diantar orang lain ke tempat peristirahatan terakhir.

    Bentuk shodaqoh di masyarakat berbagai macam bentuk. Tak hanya uang. Saat shodaqoh kita artikan pemberian bentuk uang, maka itu arti yang sempit. Padahal pemberian kepada orang lain tak hanya uang bila diartikan secara luas. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang artinya senyummu kepada wajah saudaramu adalah bentuk shodaqoh. Dari hadits ini nabi memberi contoh shodaqoh yang paling ringan dan mudah adalah memberi senyuman kepada saudara. Ingat senyum pada orang, bukan senyum sendiri.

    Secara ilmu kesehatan tersenyum dapat meningkatkan imunitas tubuh. Kesehatan yang wajib dijaga oleh setiap orang. Tersenyum dengan rasa syukur akan nikmat yang telah diberikan juga menambah keimanan.  Sehingga ada ungkapan tersenyumlah engkau akan bahagia tidak bahagia dulu kemudian engkau tersenyum.

    Hadapi dengan senyuman itulah judul lagu yang pernah dirilis oleh Dewa 19. Senyum menghadapi apa yang ada dihadapan kita dan yang sedang kita terima. Kita mudah tersenyum karena bahagia tetapi sulit untuk tersenyum karena kesusahan.

    Dengan demikian marilah kita belajar tersenyum. Baik tersenyum sebagai bentuk shodaqoh apabila kita bertemu orang lain. Ataupun tersenyum ketika melihat dan merasakan lika – liku kehidupan di dunia ini. Semoga bermanfaat.

 

Malang, 20 Maret 2021

 

 


Selasa, 02 Maret 2021

Energi Sabar Saat Melakukan Kebaikan

 



   Setiap dari kita mempunyai peluang untuk berbuat baik. Tinggal bagaimana kita bisa mengendalikan diri dan anggota tubuh yang ada pada diri kita. Tak sedikit orang yang mengerti sesuatu hal namun ia meremehkanya. Kita ambil contoh hal ibadah bila kita sebagai orang beragama. Semua orang pastilah faham bahwa beribadah kepada Yang Maha Kuasa adalah wajib. Namun realita yang ada banyak yang enggan melaksanakannya. 

   Contoh lainnya dalam masyarakat saat ada orang yang mengajak untuk melakukan kebaikan. Mungkin kita pernah mendengar ada yang meremehkannya. Dalam bahasa jawa dikatakan ah dia yang berbicara sendiri belum tentu bisa sudah mengajak kebaikan. Lalu bagaimana respon kita agar tidak sampai berbicara seperti itu ? ya kita doakan saja dan ambil hikmahnya. 

   Saat orang lain mengajak kebaikan kepada kita. Masih ada diantara kita yang melihat bahwa dia usianya di bawah kita. Oleh karena itu Imam Ali Karomallahu wajha pernah berkata : lihatlah apa yang dibicarakan jangan kamu lihat siapa yang berbicara. Meskipun masih muda tetapi ilmu dan adab mumpuni ya harusnya dihormati. Namun bila yang lebih tua kurang berilmu dan masih angkuh pendiriannya tidak mau memahami dirinya sendiri itu yang lebih diprihatinkan. 

   Semua orang masih tahap belajar. Tidak ada orang yang sempurna tanpa kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu kita wajibnya memaklumi dan memahami saat berinteraksi dengan orang lain. Begitu pula dengan penulis yang masih terus belajar agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Melalui tulisan akan berbicara dan mengingatkan umumnya pada pembaca dan khususnya pada penulis. 

 Permintaan yang paling inti adalah petunjuk dan kekuatan dari Yang Maha Kuasa. Kita minta agar bisa sabar saat ada orang yang menasehati kita jangan sampai kita berkata jelek. Tidak kalah pentingnya bagi pembicara yang menasehati orang lain juga harus sabar jangan sampai muncul sifat sombong dalam diri kita. Tanpa petunjuk dan kekuatan dari Yang Maha Kuasa kita tidak bisa melakukan aktivitas. Baik aktivitas ibadah, belajar, menulis, dakwah dan kegiatan positif lainnya. 

 Semoga bermanfaat dan senantiasa kita diberi Hidayah dan MaunahNya. Semoga sehat wal afiat lahir dan batin sehingga dapat menjalankan ibadah disisa - sisa umur ini. Amiin




Malang, 3 Maret 2021 

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Non PNS Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang  

Ingat Janji Dalam Pelantikan


 

Setiap organisasi yang di dalamnya terdapat kepengurusan pastilah mengenal pelantikan. Pelantikan yang dapat difahami secara sederhana adalah mengesahkan kepengurusan yang baru. Penulis hari ini menghadiri dua pelantikan secara beruntun. Yakni pelantikan pengurus OSIS dan pengurus Dewan Kerja Penggalang dalam Pramuka yang ada di SMP Negeri 1 Wagir.


Saat pandemi merupakan suatu momen yang bersejarah dalam suatu organisasi untuk tetap eksis dalam berkegiatan. Begitu pula di SMP Negeri 1 Wagir. Kegiatan Pelantikan harus tetap dilakukan dengan catatan wajib mematuhi protokol kesehatan. Semua yang hadir saat pelantikan disiplin memakai masker dan berjaga jarak. 


Kepala Sekolah saat menyampaikan  amanah dalam pelantikan tersebut menegaskan, bahwa kepengurusan yang baru harus lebih bersabar dan tetap semangat karena masa pandemi tidak banyak kegiatan yang diadakan. Saat seseorang sudah terpilih menjadi pengurus dan dilantik membuktikan bahwa ia termasuk orang – orang pilihan yang wajib membuktikan kepercayaan orang lain. 


Pembina Kesiswaan dan Pembina Ekstrakurikuler Pramuka mempunyai harapan terhadap pengurus yang baru. Melalui terpilihnya pengurus yang baru diharapkan bisa membawa OSIS maupun Pramuka menjadi lebih baik lagi minimal sama dengan yang lama dan tidak diharapkan lebih buruk. Tidak diharapkan juga bagi pengurus yang telah dilantik terkena masalah tugas dari Bapak Ibu Guru mata pelajaran. 


Pelantikan mempunyai makna yang mendalam apabila kita mau untuk berangan – angan juga berfikir. Karena dalam pelantikan setiap pengurus akan melakukan tanya jawab dan ikrar janji. Pembina memberikan pertanyaan yang harus dijawab dengan tegas dan jelas serta kompak. Setelah tanya jawab pembina menuntun membaca janji yang ditirukan oleh seluruh pengurus yang baru. Bila di OSIS janji yang diucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berbeda dengan Pramuka janji yang diucapkan kepada dirinya sendiri. 


Janji yang setiap hari terkadang kita juga mudah mengucapkan. Padahal janji menurut kaidah ajaran agama tidak boleh dilarang, bila menyalahi janji termasuk orang yang munafik. Saat pelantikan pembina menuntun membaca janji kepada pengurus secara tidak langsung sudah ada yang menyaksikan. Baik dari peserta pelantikan terlebih Tuhan Yang Maha Kuasa. 


Oleh karena itu apabila kita pernah berjanji, wajibnya kita berusaha untuk menepati. Baik janji saat pelantikan maupun janji kepada orang lain. Bila kita dapat menepati janji, maka akan terwujud perilaku yang berakhlakul karimah. Perilaku yang patut dicontoh orang lain karena bisa menjadi teladan. Semoga sedikit keterangan tentang pelantikan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian. Aamiin. 






Malang, 02 Maret 2021 

Penulis adalah Guru Pendidikan Agama Islam dan Pembina Ekstrakurikuler Pramuka di SMP Negeri 1 Wagir serta Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang

Rabu, 17 Februari 2021

Tantangan Ibarat Garam Yang Menghiasai Dunia Kita

 


Sebuah proses menuju keberhasilan sudah biasa banyak tantangannya. Baik seorang guru, pedagang, dan penulis sekalipun. Ibarat hidup tanpa tantangan seperti masakan tanpa garam. 


Malam ini penulis mendapat tambahan ilmu dari sang guru. Ilmu yang menjadi pedoman bagi siapun orangnya yang sedang berusaha istiqomah dalam satu hal. Bisa istiqomah belajar, istiqomah menulis, istiqomah membaca dzikir dan lain sebagainya. Ilmu yang sangat penting dalam menjaga istiqomah adalah keteguhan hati kita. 


Kembali kepada tantangan. Saat kita menjalani suatu kebiasaan yang menjadi istiqomah kita pastilah nanti ada tantangan tersendiri. Tantangan itu bisa dari luar tubuh kita, semisal hasutan orang lain, lingkungan yang kurang mendukung dan lain sebagainya. Adapun yang dari diri kita sendiri semisal capek, jenuh, faktor ekonomi, kurang semangat dan lain sebagainya. 


Semua tantangan dalam istiqomah dapat dilalui dengan beberapa tahap. Bila tantangan dari luar maka kita teguhkan hati kita. Ingatkan niat awal kita. Namun bila tantangan itu datang dari diri kita sendiri, maka selain meneguhkan hati dan niat kita juga harus berlatih sabar dan optimis. Sabar atas kekurangan kita, tetapi tetap semangat. Optimis orang lain dapat memaklumi dan memahami kita. 


Mari kita saling mengingatkan dan menasehati. Tak ada manusia yang sempurna dari salah dan dosa. Belajar memahami kekurangan dan kelebihan kita. Kemudian menumbuhkan semangat motivasi bagi diri pribadi dan orang lain untuk kebaikan bersama. 



Malang, 17 Februari 2021

Anggota GGM Nusantara UNIRA

Selasa, 16 Februari 2021

Memaksa Diri Dalam Kebaikan Itu Wajib

 



   Mungkin dinatara kita pernah mengalami sebuah kepuasan setelah menyelesaikan suatu pekerjaan. Perkerjaan atau aktivitas yang dikerjakan dengan hati senang dan akhirnya selesai akan membuat kebanggan tersendiri di dalam hati. Berbeda dengan orang yang melakukan pekerjaan dengan keterpaksaan. Itupun masih bagus masih mau mengerjakan walaupun dengan berat hati. 


  Dalam suatu kajian ilmu akhlak pernah disampaikan bahwa ada sebuah perumpamaan. Bila dalam satu rumah ada dua anak. Kemudian sang ibu memberi tugas menyapu halaman kepada dua anak tersebut. Anak yang pertama langsung pergi bermain tanpa mengiraukan tugas yang diberikan ibunya. Sedangkan anak yang kedua dengan berat hati menyapu halaman seperti apa yang diperintahkan ibunya. Memang kedua anak ini mempunyai hati yang sama. Yakni sama  sama tidak ingin menyapu halaman. Namun anak yang kedua meskipun dengan terpaksa tetap menyapu halaman. 


  Dari perumpamaan tersebut dapat kita ambil hikmahnya. Kita meniru dari anak yang kedua. Tetapi tetap berusaha untuk melapangkan hati kita saat disuruh dalam hal kebaikan oleh orang tua kita. Begitu pula saat andaikan kita sebagai mahasiswa atau pelajar sekalipun bila kita tidak ingin bahkan malas mengerjakan tugas, tetaplah berusaha mengerjakan. Walau hati terasa berat, bagaimanapun tugas haruslah dikerjakan dan dikumpulkan. 


  Penulis teringat nasehat dari seorang ulama di kota Malang tentang pembahasan memaksa diri dalam proses kebaikan. Saat kita sebagai santri tentu ada suatu kewajiban untuk sholat dan mengaji. Bagi santri pondok, sholat malam merupakan bentuk ikhtiyar perbaikan diri. Kita sudah berencana bangun jam tiga dengan menggunakan alarm, bila tidak dibarengi dengan memaksa diri untuk bangun tetap kita akan dikalahkan oleh kemalasan kita.

 

 Pekerjaan yang dikerjakan dengan terpaksa memang tidak nyaman. Namun saat suatu kebaikan bila kita tidak memaksa diri kita untuk memulai berbuat sampai kapanpun tidak akan terlaksana. Tertunda pekerjaan karena rasa capek dan sibuk itu sudah biasa. Mungkin sebagian orang bisa melakukan kebaikan dalam kondisi apapun dengan alasan kita harus kuat komitmen dan niatan kita. 


 Semoga tulisan sedikit ini dapat bermanfaat bagi penulis juga pembaca. Mari kita gerakkan tubuh kita dalam hal kebaikan. Baik kebaikan itu berupa amal sholeh, mengajar ilmu, bahkan menulis dan membaca sangat perlu kita paksakan diri kita untuk tetap menjalaninya. Andai dilain waktu saat kita sudah sampai pada waktunya istirahat kita tetap istirahat. Saat memaksa diri tetap memperhatikan kesehatan baik sehat jasmani, rohani maupun fikiran kita.  




Malang, 16 Februari 2021 M

                4 Rojab 1442 H

Penyuluh Agama Islam Kec. Pakisaji

Guru Pendidikan Agama Islam SPANEWA

Anggota Gerakan Guru Menulis UNIRA 

Mahasiswa Pasca sarjana UNIRA 

Sabtu, 13 Februari 2021

Beri Keputusan Yang Terbaik Sebelum Menyesal Di kemudian Hari

 



Pada hakikatnya setiap dari kita adalah pemimpin. Itulah salah satu kaidah fiqh yang pernah dikaji di pesantren atau majelis ilmu. Kalaupun kita tidak memimpin suatu organisasi atau lembaga tetapi setidaknya kita memimpin diri kita sendiri. Dalam diri yang Allah titipkan anggota badan kepada kita. Selanjutnya akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang telah kita perbuat. 


Belajar dari diri kita sendiri akan membuat cerdas akal fikiran kita. Saat kita membuka sejarah Nabi Muhammad ada sebuah nasehat yang sangat bermakna tentang kepemimpinan. Ketika Nabi Muhammad selesai perang dengan musuh yang lumayan besar namun beliau menganggap ini masih kecil. Perang yang sesungguhnya dan paling besar adalah memerangi hawa nafsu. Ya memerangi diri kita sendiri. Tidak selalu menuruti nafsu kita sehingga perlu adanya tirakat atau riyadhoh. 


Selain berhati - hati terhadap sikap orang lain kepada kita, kitapun juga berhati - hati pada diri kita sendiri. Tidak sedikit orang menyesali atas perbuatan yang telah dilakukannya merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Adapun yang mencari keuntungan dirinya sendiri tanpa mengiraukan orang lain. Sebaliknya ada yang baik sama orang lain namun terhadap dirinya sendiri tidak dihiraukan. 


Pada hakikatnya perbuatan yang sedang kita lakukan adalah hasil dari keputusan yang kita perbuat. Bila otak bawah sadar kita mau mengerakkan untuk menulis, maka terjadilah proses menulis. Bila kita mau menggerakkan tubuh kita untuk beribadah maka terjadilah perbuatan ibadah. Begitupun dengan kemalasan yang banyak sekali dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan dalam. 


Seorang pemimpin dalam memutuskan suatu perkara tidak boleh tergesa - gesa agar yang dihasilkan dapat bijaksana. Kita juga sama sebelum memutuskan suatu perbuatan yang kita lakukan paling tidak berfikir baik dan buruknya. Apa motivasi kita melakukannya. Saat bingung belum bisa memutuskan, maka carilah pendapat orang lain yang kita anggap dapat memberi ketenangan pada hati kita. Orang lain bisa orang tua kita, guru kita ataupun orang yang akrab dengan kita. 


Kita menjadi pemimpin berharap dapat menasehati diri kita sendiri. Belajar untuk menuju kedewasaan bersikap. Memimpin untuk kebaikan dunia akhirat. Tidak hanya memimpin karena ada sesuatu yang kita harapkan dari orang lain. Keikhlasan pengorbanan juga ketulusan hati yang diharapkan sebagai pemimpin akhir zaman. Semoga kita dapat menjadi pemimpin yang diharapkan kebaikannya di masyarakat. 




Malang, 13 Februari 2021 M

                01 Rojab 1442 H


Penyuluh Agama Islam Kec. Pakisaji 

Anggota Gerakan Guru Menulis UNIRA

Mahasiswa Pasca sarjana UNIRA

Guru P. Agama Islam SMPN 1 Wagir


Kamis, 11 Februari 2021

Kebaikan Ya Dikerjakan Tidak Difahami Saja

 




Pada umumnya semua orang faham bilamana mengerjakan kebaikan akan mendapat pahala. Saat mengerjakan maksiat atau yang menyalahi aturan akan mendapat dosa. Hal ini diibaratkan dengan reward yang artinya hadiah dan punishment yang artinya hukuman. Dari ungkapan di atas Tuhan sudah memberi  contoh yang mendapat hadiah adalah ia yang mau mengerjakan kebaikan. Hukuman bagi yang mengerjakan maksiat. 


Di dunia ini tak ada manusia yang terlepas dari dosa hanya satu yakni Nabi Muhammad SAW. Beliau memiliki sifat makshum artinya terjaga dari dosa. Meskipun Nabi sudah terjaga dari dosa, beliau senantiasa meminta ampun kepada Allah dengan membaca istighfar sehari semalam sebanyak 100 kali. Lalu bagaimana dengan kita sudah berapa kali dosa yang tanpa sengaja diperbuat tetapi malas untuk meminta ampun ? 


Kebaikan yang tulus dari hati akan diterima oleh hati. Ketulusan daripada pemberi akan berpengaruh pada penerima kebaikan itu. Dalam kehidupan di dunia ini kita dapat berfikir cerdas melihat orang lain bahkan diri kita sendiri saat efek suatu kebaikan itu sendiri. Memang seyogyanya koreksi diri namun bila belum bisa yang dilakukan adalah melihat kesalahan orang lain jangan sampai kita menirunya. 


Sikap yang wajib dijaga oleh pelaku kebaikan adalah berusaha terus melakukan kebaikan. Tiada hari tanpa melakukan kebaikan sebagai tabungan kita kelak di akherat. Nabi Muhammad pernah mengingatkan kepada para sahabatnya yang artinya kebaikan itu banyak macamnya tetapi pelaku dari kebaikan itu sedikit. Banyak orang yang faham kebaikan tetapi sedikit yang mau melakukan. 


Tantangan yang diterima oleh pelaku kebaikan biasanya dari diri pribadinya yang kurangnya komitmen. Lemahnya komitmen akan menunjang rasa malas yang sering ditimpa sebagian pelaku kebaikan. Pada awalnya rajin kemudian datang rasa malas karena kurang kuatnya komitmen akhirnya berhenti melakukan kebaikan. Kekuatan komitmen ini juga akan melawan rasa jenuh dan pengaruh orang lain. Ya orang lain yang tidak suka atas kebaikan yang kita lakukan akan mempengaruhi kita. 


Sebagai orang penerima kebaikan sikap yang harusnya kita jaga adalah doakan pelaku kebaikan itu dan jaga hati juga fikiran kita. Mendoakan supaya senantiasa kebaikannnya diterima sebagai amal ibadah dan dapat istiqomah. Mendoakan merupakan bentuk suport atau dukungan terhadap pelaku kebaikan itu. Seandainya kita melihat,  membaca karya orang lain mari kita doakan agar bisa istiqomah dan respon positif sebagai bentuk dukungan juga semangat baginya. 


Penerima kebaikan juga wajib menjaga hati dan fikiran. Banyak kita jumpai di masyarakat atau kita sendiri pernah menggunjing orang lain yang sedang melakukan suatu kebaikan. Kata yang terucap atau dalam hati yang merendahkan kebaikan orang lain harus kita hindari. Belum tentu kita bisa seperti orang lain yang bisa mengerjakan kebaikan itu. 


Mari kita sama - sama menjaga perasaan orang lain agar persatuan senantiasa terjalin. Jangan sampai karena sedikit pembicaraan kita yang menyakitkan orang lain berhenti melakukan kebaikan. Semoga dengan sedikit motivasi yang terbangun dapat menjadi jalan hidayah bagi penulis dan pembaca. Aamiin. 



Malang, 12 Februari 2021

Penyuluh Agama Islam Pakisaji Malang

Anggota Gerakan Guru Menulis UNIRA

Santri Pondok Pesantren PPAI NH

Guru P Agama Islam SPANEWA 

Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara

            Senin, 31 Juli 2023 Guru Pendidikan Agama Islam mengikuti Penguatan Moderasi Beragama dan Bela Negara di aula SMP Darul Faqih In...