Nuansa Idul Fitri yang akrab dengan kita adalah istilah halal bihalal. Benar Halal bihalal yang mempunyai arti saling meminta dan memberi maaf. Secara teksnya bermakna meminta halal dari apa yang pernah kita perbuat kepada orang lain.
Namun sering kali hanya sekedar bersalaman tanpa mengucapkan apapun. Ada yang mengucapkan maaf hanya sekedar lisan. Maaf seyogyanya juga diiringi keniatan dalam hati diucapkan dengan lisan serta tidak mengulangi perbuatannya.
Selain daripada meminta maaf atau minta halal, perhatikan juga makanan yang kita konsumsi. Ketika sillaturahmi atau bertamu misalnya. Saat tuan rumah belum mempersilahkan untuk menikmati hidangan kita tidak diperkenankan untuk menikmatinya. Kemudian yang lebih penting adalah tidak membawa makanan keluar dari rumah yang dikunjungi tanpa izin pemiliknya. Hal ini bisa dikategorikan mencuri karena tidak izin tuan rumah. Benar sudah dihidangkan tetapi lebih sopannya dengan minta izin.
Halal ternyata mencakup banyak hal. Tak hanya ucapan, berjabat tangan, perbuatan tapi juga makanan yang dikonsumsi. Di luar bulan syawal umat Islam sangat ditekankan masalah makanan halal. Utama lagi di bulan Syawal dimana umat Islam setelah menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh.
Marilah kita menjaga makanan yang kita konsumsi. Apapun yang masuk dalam tubuh kita wajib yang halal. Tapi juga diperhatikan gizi dan ukurannya. Jangan sampai halal tapi tak bergizi. Halal tetapi sampai berlebihan itu juga tidak baik.
Semoga sedikit tulisan ini bisa mengingatkan kita akan kehalalan dari makanan yang dikonsumsi. Melalui makanan halal hidup kita akan menjadi berkah. Aaamiiin.
Malang, 6 Mei 2022

Sangat setuju kita ucapkan kata maaf dimulai dari niat dlm hati ke lisan kita...
BalasHapusSangat inspiratif dan perlu selalu dan selalu dilakukan secara konsisten dalam keseharian kita Pak Uztadz Akbar
BalasHapusMatur nuwun
HapusInggih
BalasHapusMatur nuwun
HapusMantab, matur nuwun ilmunya
BalasHapus